Wednesday, December 14, 2016

Menjaga Tradisi Menyematkan Bendera Merah Putih di Atap Rumah

Tags

Tradisi memasang bendera merah putih di atap rumah yang tengah dibangun masih dipertahankan warga Sukahurip Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Lihat saja gambar di atas. Warga melilitkan bendera berukuran kecil pada kuda-kuda atap rumah. Dalam tradisi Jawa, memasang bendera saat membangun rumah adalah keharusan. Bedanya, di beberapa daerah pemasangan bendera ini selalu disertai sesaji berupa makanan yang murni berasal dari alam. Seperti umbi-umbian dan lainnya. Selain itu pemasangan bendera merah putih juga selalu disertai menggantungkan seikat pada pasa kuda-kuda atap rumah.

Di Kampung Sukahurip ini, tradisi sesaji dan menggantungkan padi sudah tidak dilakukan. Maklum saja, hampir sebagian warga di sana saat ini sudah tidak memiliki sawah karena habis dijual. Namun untuk pemasangan bendera merah putih masih tetap dipertahankan. Setiap ada warga yang hendak membangun rumah, mereka biasanya saling mengingatkan untuk membeli bendera merah putih lebih dulu.
Dan, menurut cerita warga setempat, pemasangan bendera pada bangunan sudah dilakukan sejak era kemerdekaan. Hal itu sebagai bentuk rasa cinta mereka terhadap tanah air sekaligus, menandakan bahwa penghuninya merupakan warga negara Indonesia sejati. "Halo-halo Bandung heula" kata sang pemilik rumah yang bernama Tata.
Halo-Halo Bandung merupakan judul lagu yang diciptakan untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api. Ini adalah peristiwa bersejarah, dimana pada 23 Maret 1946- setahun setelah kemerdekaan- sekitar 200.000 warga Bandung membakar rumah mereka sendiri dengan tujuan agar wilayah tersebut tidak dijadikan markas oleh tentara sekutu dan Nica yang saat itu berusaha kembali menguasai Indonesia. Setelah membakar rumah, penduduk bandung pergi ke sebelah selatan kota tersebut.
Bagi warga Jawa Barat, peristiwa tersebut sangat langgeng dalam kenangan dan diceritakan secara turun temurun kepada generasi berikutnya. Meski dalam buku sejarah juga sudah dicatatkan dan dimasukan dalam kurikulum pelajaran tingkat dasar.
Tata sendiri mengaku tidak tahu tujuan utama nenek orang tua pada zaman dulu memasang bendera pada bangunan. Dia hanya mengikuti tradisi yang sudah ada sebagai bentuk ungkapan syukur atas kemerdekaan yang telah dicapai.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon